What kind of leadership do you want?

Image

Sebagian masyarakat kita kagum akan pribadi “super” dalam beberapa individu, akan prestasi yg gemilang dan menonjol, berbeda dari mayoritas. Makanya tidak usah heran jika misalnya, berita keberhasilan seorang anak lulus kuliah umur 18 tahun jadi heboh. Atau dalam contoh lain, orang tua mana yang tak ingin punya anak selalu peringkat 1. Dan sebagian menjadikan hal tersebut sebagai panduan memilih pemimpin. Banyak orang merasa bahwa hanya “superior entity from thyself”-lah yang berhak memimpin mereka.

Tapi tidak dengan saya, saya ingin pemimpin saya orang biasa, prone to mistakes and struggles with normal and stupid obstacles in life. “The guy next door/cubicle, average Joes.” Mereka yang mengerti saya, dan saya mengerti mereka. Mereka yang menganggap kesalahan pasti ada dan dapat terjadi kapanpun, mereka yang siap minta maaf dan siap memaafkan secara rasional.

Setahun terakhir, di kantor saya dipimpin langsung oleh seorang Lead Engineer yang cukup tegas. Gak takut adu kening dengan klien, gak pernah mau ditekan procurement, dan gak segan sama para direksi yang pongah. Orang berilmu tinggi meski banyak yang mendapat kesan dia galak. Tapi satu hal yang paling berkesan adalah dia juga bias salah, dan ketika dia salah dia tidak segan minta maaf. Quote favorit saya dari dia adalah “kalau salah ya minta maaf..,” atau “maaf nih ane khilaf, oke ya dihitung lagi,” plus senyum dia yang dipaksakan.

Hal ini mengajarkan saya satu hal, anda tidak perlu CV mengkilap untuk jadi pemimpin, anda cukup jadi orang biasa. Siap mendengar dan mengambil keputusan, tapi siap pula minta maaf jika keputusannya salah. Bagi saya hidup bukan piramida/hierarki dimana kewibawaan/kecerdasan/wealth atau apapun menjadi factor yang menentukan siapa di atas siapa. Bagi saya hidup itu kolam besar dimana semua orang berendam didalamnya, dimana kita berusaha saling mengerti satu sama lain. Saya ingin pemimpin saya orang yang berendam di sebelah saya, orang biasa yang basah kalo kena air dan kelaparan kalo 48 jam tidak makan.

Image

*gak sepenuh ini juga sih..:P

Iklan

Street of Baltimore | Lagu dengan lirik paling tulus yang pernah saya dengar..

Cerita saya kali ini adalah mengenai sebuah lagu, sebuah lagu yang saya nobatkan sebagai the song with the most sincere and loving lyric i’ve ever heard: The Street of Baltimore.

Sedikit background: Saya berkenalan dengan lagu ini beberapa tahun yang lalu saat kuliah, tepatnya ketika saya sedang getol-getolnya ngefans dengan Norah Jones, sebenernya sampai sekarang masih, lalu mulai mengetahui bahwa si nona bersuara lembut ini punya proyek/band yang mengcover lagu-lagu country classic, bernama The Little Willies. Sejauh ini The Little Willies sudah mengeluarkan dua album. Saat itu saya baru dapat album pertama mereka, the self titled The Little Willies

The Little Willies and the Beautiful Norah Jones

Already a country music fans at that time, maka tak perlu waktu lama, saya lalu jatuh cinta pada lagu-lagu di album tersebut. Tapi ada satu lagu yang menarik perhatian saya karena liriknya yang unik; Street of Baltimore dari track 9. Baca lebih lanjut

The Taste of Revenge

Take a look of this two popular characters.

They are considered heroes and protagonist, even thought their stories are popular because they are driven with nothing but their lust for revenge. The fact that they are popular gives us conclusion that: Society accept revenge. Nobody likes to see bad deeds goes unpunished. Everybody have been wronged at least once in their life, yet only a few manages to gather enough courage to scheme and even to execute any real revenge. That’s why a story about revenge is popular. It gives the satisfaction to the average Joes that in a fiction world, somebody do what must be done. Baca lebih lanjut

Ben Howard – Burgh Island

Sejak pertama kali denger EP ini, sebenernya saya sudah pengen buat reviewnya. Total EP ini ada 4 lagu :

No. Title Length
1. “Esmerelda” 4:44
2. “Oats in the Water” 4:59
3. “To Be Alone” 5:37
4. “Burgh Island (Feat. Monica Heldal)” 8:15

Secara keseluruhan Ben selalu menyajikan musik yang memanjakan telinga, terutama dengan keahlian akustiknya yang luar biasa. Di EP ini Ben sedikit bereksperimen dengan sentuhan electric music, dan suasana lagu-lagunya juga lebih sendu, gak akan ditemui lagu se-cheerful Keep Your Head Up.

Baca lebih lanjut

Senja Gerimis di Stasiun

Kalau ibukota Jakarta  seolah-olah seperti seorang businessman super sibuk yang tak pernah istirahat, sebuah kota yang dipenuhi kemacetan dan kebisingan sepanjang hari seperti seorang eksekutif yang tak pernah berhenti bergerak, sementara metropolitan tetangganya, Bandung, lebih suka saya ibaratkan seperti seorang wanita karir yang penuh keanggunan dan elegan.

Bandung dan segala keindahannya

Baca lebih lanjut